Pemblokiran Internet, Apakah Cukup ?

Sudah banyak situs yang diblokir dan masih banyak situs yang akan diblokir. Tapi apakah cukup untuk menghambat laju paparan pornografi dan kekerasan. Menurut saya, diblokir pun akan percuma.

Semasif apapun pemblokiran, pemerintah tidak mungkin memblokir Google. Ketergantungan pengguna internet di Indonesia terhadap Google sangat tinggi. Kecuali di Indonesia sudah memiliki search engine sendiri yang sangat familiar untuk digunakan seperti di China yang mempunyai Baidu.

Apakah pemerintah juga akan memblokir social media seperti Facebook, Twitter dan Instagram ? Saya rasa juga tidak mungkin. Social media juga menjadi bagian hidup masyarakat di Indonesia. Bahkan pemblokiran Tumblr seperti dulu saja sudah mendapat suara kontra yang banyak.

Bagaimana dengan torrent ? Bisakah diblokir ? Dalam teknologi sharing peer to peer ini, lebih sulit lagi untuk diblokir.

Di Google, dengan menuliskan kata search yang menjurus pornografi, akan banyak tampil hasil tulisan atau gambar di halamannya. Apalagi bila search pornografi di Google image, gambar yang tampil di halaman Google Images sudah penuh dengan aneka macam gambar pornografi (tanpa perlu masuk ke situsnya).

Di social media, gambar atau video pornografi dan kekerasan dengan mudahnya dishare dan dilihat semua followernya. Meski social media hanya menerima friends dari saudara dan teman yang dikenal, selalu ada saudara dan teman yang kita kenal, hobi share gambar dan video pornografi atau kekerasan. Sudah beberapa kali, saya terpaksa harus meng – unfriend saudara atau teman yang punya hobi share pornografi atau kekerasan, karena media social saya juga dipakai oleh gadis kecilku.

Internet bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, sangat berguna, untuk mencari informasi pengetahuan, untuk berbisnis. Bahkan saat ini, penambah material pelajaran sekolah gadis kecilku adalah internet. Tanpa internet, saya tidak bisa mencari informasi mengenai banyak hal yang ditanyakan gadis kecilku, terutama pelajaran sekolah. Saya juga hidup dari internet, sebagai Ibu yang sekarang tidak bisa meninggalkan anaknya, harus bekerja secara remote dengan menggunakan Internet.

Sisi lain internet adalah banyaknya informasi tanpa filter dan cukupnya pengetahuan yang menerima informasi. Sebenarnya, untuk dapat mengakses situs dengan pornografi atau kekerasan, sudah diberi warning harus 18 tahun ke atas. Tapi tanpa pengetahuan yang cukup, apalah warning, terabas saja.

Cara yang terbaik menurut saya adalah diadakan kelas orang tua. Selama saya menjadi orang tua, tidak pernah ada penyuluhan bagaimana menjadi orang tua dan mendidik anak dari instansi terkait. Dahulu di Indonesia memiliki program posyandu yang sedikit banyak sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk member penyuluhan ke orang tua. Tapi saat ini, semua program penyuluhan hilang tak berbekas, padahal yang dihadapi orang tua sekarang lebih sulit dari orang tua di masa lalu.

 

Pornografi Terselubung di Internet :

  1. Novel di internet, yang hanya berupa tulisan, bukan berarti bebas dari pornografi. Banyak novel yang diberi rating M (Mature) oleh penulisnya. Sudah ada rating, tapi berapa banyak orang tua yang tahu tentang novel Mature ini.
  2. Manga (komik Jepang, Korea, China) juga mempunyai rating dari penerbitnya. Tapi tidak semua orang tahu artinya, kecuali komunitas para pembaca Manga itu sendiri. Mungkin yang paling mudah bahwa Manga itu berisi pornografi bila ada sebutan Hentai (berisi gambar – gambar pornografi yang vulgar tanpa jalur cerita). Tetapi Manga yang juga bergenre Mature, Ecchi, Yaoi (hubungan Gay), Yuri (hubungan Lesbi) juga banyak berisi banyak gambar pornografi, meski ada cerita di dalamnya.
  3. Anime ( film kartun Jepang ) juga sering terselip adegan pornografi. Padahal banyak orang tua di Indonesia menganggap kartun adalah film anak. Padahal ada anime yang memang dibuat dengan target pasar penonton dewasa.
  4. Game. Masih lekat diingatan kita, rencana Mendikbud yang ingin memblokir beberapa game. Game juga dibuat dengan rating. Rating M (Mature) dibuat untuk orang dewasa, bukan anak –anak.

 

Dengan banyaknya budaya baru seperti di atas, tanpa ada kelas untuk orang tua, akan sangat sulit buat orang tua untuk mendidik anaknya. Bila orang tua tidak tahu, bagaimana member tahu anaknya.

Gadis kecilku kubebaskan melihat Youtube, membaca novel, membaca Manga, melihat anime tanpa pengawasan dari saya. Bijaksanakah ? Benteng terbaik dari pornografi adalah diri sendiri. Jika anak sudah tahu efek pornografi buat dirinya, buat masa depannya, anak akan menghindar dengan sendirinya. Tetapi sebagai orang tua, saya juga memberi pengertian, dimana dia akan mendapat paparan pornografi, mengapa dia belum boleh memiliki akun media social sendiri.

Mudah – mudahan tulisan ini, bisa memberi pengetahuan baru buat orang tua.

Daftarkan email Anda di blog ini, agar dapat mengikuti update blog tulisan tentang pornografi dalam internet.