Menumbuhkan “Self Drive” pada Anak

Self Drive Anak

Bahasa Indonesia Self Drive apa ya ? Saya cari – cari tidak menemukan yang pas. Bahasa Inggris bisa Self Drive atau Self Determination.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, gadis kecilku berinternet sendiri dengan batasan – batasan yang telah dia ketahui dan pahami, belajar membaca sendiri tanpa disuruh seorang pun, semuanya berawal dari keyakinan saya, kemauan anak melakukan sesuatu harus dari dirinya sendiri, bukan karena disuruh orang lain.

Saya tumbuh tanpa punya self drive untuk sukses. Bila ditanya teman, “mengapa kamu sekolah ?” jawaban saya sederhana, “karena disuruh orang tua” atau “untuk menyenangkan orang tua”. Padahal orang tua saya berinvest banyak waktu dan tenaga untuk menjadikan saya sukses, tapi saya tidak mempunyai keinganan sendiri untuk sukses. Saya ingin, hal itu tidak terjadi pada anak saya.

Karena saya single parent, saya harus berhenti kerja total untuk mengasuh anak saya dari lahir sampai usia 1 th, karena tidak ada yang mendampingi anak saya tumbuh. Dilanjutkan dengan usaha sampingan dan mengajar yang bisa mendampingi anak saya hingga usia 2 th. Di usia 2 th, gadis kecilku saya tinggal di kampung dan saya merantau ke Jakarta. Berlanjut saya pindah kerja, balik ke kampong pada saat gadis kecilku TK. Sayangnya tidak lama, saya harus meninggalkannya lagi di kelas 2 SD untuk bekerja di proyek hingga kelas 6 SD.

Dengan hidupnya yang tidak normal seperti anak lainnya, gadis kecilku terbilang sangat mengerti mengapa dia harus ditinggal. Pengertiannya tumbuh dari, “Untuk beli susu dan main, butuh uang, kalau Mama tidak kerja Mama tidak punya uang.” Ini adalah self drive pertamanya dia di usia 2 th. Pulang kerja bila mendapat uang, selalu saya tukar uang kertas 1000 an dan saya berikan kepada gadis kecilku sambil bilang, “ini gajian Mama”.

Ketika dia berusaha sendiri untuk bisa membaca, tanpa disuruh orang lain, self drive nya tumbuh dari keinginan untuk bisa membaca buku – buku bacaannya. Prosesnya panjang seperti yang saya ceritakan sebelumnya.

Di saat gadis kecilku duduk di kelas 2 SD, iseng saya tanya apa cita – citanya. Jawabannya adalah, “ingin punya banyak kos – kosan, terus kos – kosannya menjadi banyak rumah kontrakan. Kalau rumah kontrakannya sudah banyak, jadi villa. Kalau villanya sudah banyak, jadi punya hotel”.

Saya sendiri terkejut mendengar jawabannya. Cita – citanya tumbuh dari cerita Omnya (adik saya) yang karena kerjaannya, harus traveling keliling Indonesia menginap di hotel. Gadis kecilku tahu karena saya selalu bercerita tentang pekerjaan saya dan Omnya.

Self drive gadis kecilku tumbuh karena saya selalu bercerita tentang pekerjaan saya, orang yang saya temui, apa yang saya baca, apa yang saya alami. Dari bercerita, saya beri pengertian apa yang baik, apa yang buruk, bagaimana mencapainya. Sampai orang tua saya bilang bahwa saya terlalu banyak bercerita dengan anak saya. Bahkan kegagalan saya pun saya ceritakan ke gadis kecilku, yang buat orang tua saya tabu untuk diceritakan. Tapi buat saya, kalau saya gagal dan tidak diceritakan ke anak, kemungkinan terulang gagal bisa terjadi.

Seperti berinteraksi dengan internet yang saya bebaskan, saya bercerita banyak ada apa di dalam internet, apa akibat internet, contoh kejadian akibat internet dari berita. Semuanya akan berefek pada masa depannya, jadi harus gadis kecilku sendiri yang membentengi dunia. Malah saya yang kecolongan dengan Youtube. Gadis kecilku suka nonton anime di Youtube. Suatu saat dia nonton anime dan tiba – tiba ada adegan pornografi di anime tersebut. Yang dia lakukan adalah, keluar kamar mencari saya dan menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Dia sendiri sudah menutup anime tersebut.

Jadi banyak – banyaklah bercerita dengan anak tapi bukan menggurui. Cerita kesuksesan, kegagalan saya sendiri menjadi pelajaran buat gadis kecilku. Akan selalu ada interaksi percakapan dalam cerita. Ketika hal itu terjadi, kesempatan buat saya memberi pengertian bahwa semuanya untuk dirinya, bukan untuk Mamanya.