Mencari Spot Indah di antara Kepadatan Pengunjung Gunung Bromo

Sudah 15 – 18 tahun saya tidak berkunjung ke Gunung Bromo. Dulu, saat saya masih kuliah, dengan teman – teman, gunung Bromo jadi tempat melarikan diri sejenak di antara ruwetnya perkuliahan. Waktu itu, kami naik Bromo, cukup hanya dengan motor full BBM dari Surabaya dan uang saku 5000 rupiah untuk jaga – jaga kalau ban motor bocor (seorang teman pernah kejadian ban motornya bocor pada saat naik ke Penanjakan, Bromo dan ada tukang tambal ban di sana)

18 tahun lalu, gunung Bromo belum seramai sekarang, bahkan penyewa mobil Jip bisa dihitung dengan jari tangan di hari biasa (bukan weekend). Tempat melihat matahari terbit hanya ada, yang sekarang disebut di Penanjakan 1. Para pengunjung pun bisa duduk dimana saja tanpa berdesakan karena tidak bisa melihat matahari terbit.

Liburan hari raya tahun 2015 kemarin, adik ipar saya yang orang asli Bogor, ingin ke Bromo. Jadilah kami berlima, aku dan gadis kecilku, adikku dan adik iparku serta keponakan kecilku. Kami berangkat siang dari Sidoarjo. Sampai di daerah Sukapura, Probolinggo sekitar pukul 19:00. Kami putuskan istirahat di hotel, karena membawa para krucil, agar mereka tidak capek.

Kami menginap di hotel Sukapura Permai, masih jauh dari Ngadisari Bromo. Kami berhenti di hotel tersebut karena melihat banyak mobil Jip parker di daerah itu, jadi sekalian istirahat di hotel, sekalian cari Jip.

Hotel Sukapura Permai

Tidak kami sangka, setelah pesan kamar hotel, langsung ditawari Jip, yang tarifnya sama dengan kalau sewa jipnya sudah di atas. Sewanya 700 ribu per 1 jip, untuk 4 destinasi di Bromo (Penanjakan, Bukit teletubbies, Pasir Berbisik, Kawah Bromo). Beruntung, ternyata sewa jip di atas dan di bawah sama saja. Lebih baik sewa di bawah, saya tidak perlu setir mobil melalui jalur gunung yang menakutkan.

Pukul 3 pagi, kami berangkat naik ke Penanjakan. Karena sudah 15 tahun tidak ke Bromo, saya Cuma tahu ke Penanjakan saja. Ternyata setelah sampai di Penanjakan dan melihat jalur naik untuk tempat melihat matahari terbit bukan anak tangga, saya heran. Setahu saya, jalur ke tempat melihat matahari terbit di Penanjakan sudah ada tangga yang bagus, aman buat anak kecil. Ternyata, guide sekitar bilang, tempat kami berhenti adalah Penanjakan 2. Kalau yang ada anak tangga adalah Penanjakan 1, jalan naik ke Penanjakan 1 sudah tertutup jip yang parkir, tidak bisa dilewati mobil, hanya ojek. Jalur di Penanjakan 2 masih tanah. Untunglah bisa sewa tukang gendong, untuk menggendong keponakan yang masih berusia 5 tahun.

Ruwet banget, ramai sekali, buat saya sangat tidak nyaman, bukan menikmati matahari terbit, tapi menikmati lautan manusia berebut melihat matahari terbit.

Bagaimana dengan matahari terbitnya ? Yang terlihat cuma manusia dan menara Penanjakan 1. Jadi kalau ke Bromo, sudah bersusah payah naik, lebih baik tambah usaha, naik ke Penanjakan 1. Dari Penanjakan 2, arah tempat matahari terbit terhalang oleh Penanjakan 1.

Buat saya yang sudah berkali – kali ke Penanjakan, Bromo, tidak masalah tidak bisa lihat matahari terbit. Tapi buat adik ipar saya yang pertama kali ke Bromo, saya ingin tidak ada penyesalan jauh – jauh datang ke Bromo hanya melihat lautan manusia. Ada spot kesukaan saya dari dulu, jarang orang yang ke tempat itu, meskipun dilewati banyak orang.

Spot itu adalah, pos sebelum turun kembali ke lautan pasir. Di tempat ini, yang hobi selfie bisa mendapat gambar yang bagus. Bila tidak mendung, terlihat pura yang seperti melayang di atas awan (padahal karena pura di lautan pasir yang berkabut), persis seperti istananya Sun Go Kong di film.

Bromo

Jadi jangan lupa, berhenti sejenak di lokasi ini, ambil foto kenangan dari Bromo. Lokasi ini mengingatkan pada lokasi syuting AADC? 2, Punthuk Sethumbu.

Kami lanjutkan perjalanan kami ke Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik (yang saya juga baru tahu saat itu, dulu belum dikenal orang). Di bukit Teletubbies, para krucil makan bakso di warung yang berada di tempat itu. Sedangkan lokasi Pasir Berbisik disebut demikian karena jadi tempat lokasi syuting film Pasir Berbisik (film Dian Sastro setelah AADC 1).

Bukit Teletubbies

Pasir Berbisik

Last but not least, ke kawah Bromo. Menjadi tujuan yang terakhir, karena lokasi kawah Bromo yang berada di arah kami datang. Tapi diputuskan tidak naik, krucil kami sudah capek, tidak kuat berjalan kaki lagi ke kawah Bromo.

Di dekat kawah Bromo, lokasi Pura. Saya suka melihat Pura ini, yang terlihat eksotis karena berdiri sendiri di lautan pasir dan di tengah – tengah pegunungan. Mengingatkan saya pada cerita silat, dimana lokasi perguruan yang berada di tempat terasing dari manusia.

Pura Bromo