Mencari Kepercayan Si Gadis Remaja Kecil

Bagaimana rasanya, bila si anak ketika diajak berbicara tak mau berhadapan dengan kita sebagai orang tua. Hal itulah yang saya alami dengan gadis kecil saya 1.5 tahun yang lalu. Dan hal itu tidak terjadi sebulan dua bulan, tetapi setahun lebih.

Memang tidak ada yang gratis di dunia ini, termasuk mendapat kepercayaan dari anak sendiri. Dimulai dari jarangnya bertemu dengan anak saya. Sebagai pekerja proyek yang harus selalu ke luar kota, saya jarang bertemu dengan anak saya, bahkan sebulan sekali pun belum tentu bisa. Saya harus bekerja di proyek karena memang keahlian saya di bidang tersebut dan sebagai pencari nafkah tunggal, harus saya jalani dengan segala resikonya. Ternyata resikonya adalah anak saya.

Dari sisi materi, anak saya tercukupi. Tetapi dari sisi psikologi, ada yang salah. Di sekolah, anak saya penyendiri, pulang ke rumah, anak saya tidak mau keluar dari kamar kecuali keperluan primernya (makan, mandi, ke toilet). Bila diminta baik – baik untuk keluar kamar, akan dijalani tapi tidak dengan ikhlas dan muka cemberut. Anak saya selama saya tinggal keluar kota tinggal dengan Kakek Neneknya. Kakek Neneknya berkali – kali telepon meminta saya untuk membujuk anak saya agar berinteraksi dengan orang lain. Tapi saya pun tidak pernah sukses saat itu bicara dengan gadis kecil saya. Saat bicara dengan saya, sebisa mungkin anak saya menjaga jaraknya agar tidak terlalu dekat dengan saya, matanya tidak mau memandang saya dan hanya mau menjawab pendek – pendek, “iya”, “tidak”, “ga tahu”.

Dengan kondisi yang kritis seperti itu, saya memutuskan resign dari kerja, meski belum tahu bagaimana menafkahi anak saya bila saya resign. Saya hanya bisa mengucap “Bismillah”, mudah – mudahan saya bisa.

Meski saya resign, bukan berarti anak saya mau dekat dan berbicara dengan saya. Yang saya lakukan pertama adalah kegiatan rutinitas dengan anak saya, saya kerjakan sendiri. Peribahasa Jawa bilang, “Witing trisno jalaran soko kulino”, cinta datangnya karena terbiasa. Pagi membangunkannya untuk siap – siap sekolah, menyiapkan sarapan, mengantar jemput sekolah. Dengan kegiatan rutin, sedikit demi sedikit anak saya terbiasa dengan Mamanya (meski masih jaga jarak).

Anak saya mulai menyukai lagu – lagu barat, saya bantu beri referensi lagu. Saat libur weekend, saya ajak keluar dengan teman – teman saya yang punya anak sebaya dengan gadis kecil saya. Nonton film bareng, nyanyi bareng. Pelan – pelan, anak saya mulai terbuka dengan teman seusianya. Meski belum member kepercayaan ke Mamanya, akrab dengan teman seusianya adalah kemajuan.

Dari berinteraksi dengan teman sebayanya, anak saya mulai menjadikan saya sebagi referensinya bertanya. Ketika temannya menyukai lagu A, anak saya bertanya ke saya tentang si lagu A. Semakin lama pertanyaannya tentang bermacam – macam masalah yang dihadapinya. Saat ini, anak saya selalu curhat pada Mamanya bila ada masalah apapun.

Butuh kesabaran yang panjang untuk mendapat kepercayaannya. Tetapi syukurlah, niat saya resign untuk merubah psikologi anak saya menjadi lebih baik bisa tercapai.