Membuat Gadis Kecilku Suka Membaca

Hobi gadis kecilku adalah menulis dan menghabiskan uang sakunya untuk membeli buku. Kalau masih kurang, nego dengan Mamanya. Negoisasi yang panjang, mulai dari “aku hutang dari uang sakuku minggu depan” atau “aku bantuin Mama deh” atau “nanti kuganti dengan uang saku hari raya” (yang belum terjadi). Akhirnya, Mamanya jugalah yang beliin buku lainnya yang dia inginkan.

Banyak sekali saudara atau teman yang bertanya, “Bagaimana bikin anak suka membaca Mbak ?”

Tapi saya tidak pernah membuat anak saya suka membaca. Yang saya kenalkan sejak kecil adalah mencintai buku. Buat saya, buku lebih berharga daripada perhiasan. Meskipun berpuluh – puluh tahun hidup seperti orang nomaden, kemanapun saya pergi, selalu banyak buku bergelatakan di sekitar saya.

Karena saya single parent dari anak saya lahir, ketika saya tidur malam bersama gadis kecilku, saya selalu tidur dengan buku. Sata saya masih terjaga dan gadis kecilku tidur, saya membaca buku. Bila gadis kecilku terbangun, dia lihat Mamanya membaca buku. Itu terjadi sejak gadis kecilku lahir dan pulang dari persalinan.

Di usianya 7 bulan, ketika mulai merangkak dan duduk, gadis kecilku kubelikan buku anak – anak yang besar. Kebetulan saya menemukan buku anak – anak bergambar, yang berukuran lebih kecil sedikit dari kertas A3. Buku bekas, bukan buku baru. Pertimbangan saya, buku ini untuk gadis kecilku dibuat mainan sambil merangkak.

Buku itu dilihat – lihatnya selama beberapa bulan, hingga akhirnya habis karena dirobek – robeknya. Tapi saya tetap tidak kapok untuk membelikan buku lagi. Dibelikan lagi, dibuat mainan sambil dilihat – lihat, dirobek – robek lagi. Tapi dalam proses situ, saya tidak bosan untuk menceritakan isi bukunya.

Ketika sudah mulai bisa bertanya, sekitar usia 1.5 th, gadis kecilku mulai bisa menanyakan apa gambar di bukunya. Ini berlangsung terus hingga usianya 3th. Di usia 3th, agak berbeda. Setelah minta diceritain bukunya dan tahu isinya, ganti dia yang menceritakan isi bukunya ke orang lain (Kakek Neneknya, saudara, temannya). Di usia ini juga sudah bisa minta diantar ke toko buku untuk beli buku dan memilih sendiri. Tapi gadis kecilku belum bisa membaca, bahkan hingga usia 4.5 th, 1 huruf pun tidak tahu.

Hal yang berbeda tiba – tiba terjadi di usianya 5 th. Gadis kecilku yang biasanya menolak untuk belajar huruf, tiba – tiba setiap hari minta belajar membaca. Di usia 5 th ini juga, gadis kecilku mulai sekolah TK. Tapi tidak mau masuk TK A, jadi langsung masuk di TK B (karena kami tinggal di kampung, jadi mudah untuk masuk TK B tanpa banyak persyaratan).

Ternyata, di TK ini tiba – tiba minta belajar membaca. Selidik punya selidik, terjadi karena guru TKnya bilang, boleh membawa buku ceritanya dari rumah untuk dibaca di sekolah. Karena buku ceritanya dia banyak sekali, dia ingin membawanya ke sekolah. Tapi dia tidak bisa baca. Akhirnya gadis kecilku berjuang keras untuk bisa membaca. Saya sendiri juga heran, tiba – tiba bisa membaca tidak lama dari dia belajar membaca. Hanya 1 – 2 bulan belajar membaca, langsung mencoba membaca buku ceritanya.

Gadis kecilku pernah bercerita ke saya tentang usahanya belajar membaca dalam hati. Dia pernah bertanya, “kenapa orang dewasa bisa membaca buku tanpa terdengar suara di mulutnya ?”

Kujawab, “Karena membaca buku dalam hati. Dilihat tulisannya, sudah bisa membayangkan apa bacaannya.”

Dan dia berusaha untuk bisa seperti itu, tanpa ada yang meminta. Dan sukses bisa membaca di dalam hati saat kelas 1 SD (usia 6.5 th, masuk SD ketika usianya 6 th kurang dikit).

Hingga saat ini gadis kecilku sudah SMP, buku bacaannya masih terus bertambah tiap bulan dan semakin tebal bukunya.

Semuanya dimulai karena saya mengajarinya untuk mencintai buku.

O ya, ada efek buruk hobi baca ini. Tidak bisa melihat uang nganggur, ada uang sedikit sudah pergi ke toko buku untuk beli buku.