Cara Mengatur Keuangan Keluarga Kecil Saya

Tiba-tiba saya ingin menulis, bagaimana cara mengatur keuangan keluarga kecil saya. Karena malam ini, tiba-tiba juga saya ingin mentransfer tabungan saya menjadi saham dan juga saya mendapat email dari rekening saham saya.

Sebagai pencari nafkah utama dan pembelanja utama juga, apalagi saya tidak mempunyai pekerjaan tetap dan penghasilan tetap, saya harus mengatur keuangan dengan hati-hati. Saya bukan seorang yang suka membuat perincian keuangan dengan detail, bahkan kata orang tua saya, saya termasuk boros kalau sedang punya uang (tapi saya irit banget dengan diri saya sendiri kalau sedang bokek hehehe….). Orang tua saya bilang saya boros karena saya suka mentraktir diri sendiri setelah mendapat hasil dari kerja keras yang saya lakukan. Saya anggap sedang memberi dua jempol pada diri sendiri, because doing a good job.

Saya mengatur keuangan saya dengan cara memiliki beberapa rekening yang berbeda. Uang kewajiban yang harus segera ditransfer (bayar hutang, tagihan rumah, zakat+shodaqoh), uang sehari-hari, uang bulanan, uang sekolah.

  • Uang sehari-hari boleh habis, kalau masih ada sisanya boleh berpesta dengan keluarga. Bila saya sedang tidak mempunyai penghasilan, uang sehari-hari diambil dari uang bulanan
  • Uang bulanan, paling tidak seperempat nilai hutang, bila melebihi itu, saya ubah tabungan bulanan saya menjadi saham atau logam mulia atau reksadana (saat ini yang ada hanya saham, lebih praktis). Kenapa saya menabung saham, saya akan tulis di artikel yang lain
  • Uang sekolah, harus tersedia uang sekolah hingga setahun untuk bayar sekolah, jadi saya punya waktu yang cukup untuk mengolah modal usaha dan saya tidak dalam keadaan putus asa hingga meninggalkan akal sehat karena butuh uang sekolah

 

Saya Pecinta Beli Cash

Saya pencinta beli cash, tidak suka hutang. Sekali-kalinya hutang, karena uang dipinjam saudara saya dan tidak dikembalikan, pada saat yang sama saya butuh uang, terpaksa hutang Bank. Bekerja di proyek yang sewaktu-waktu bisa diPHK dan dilanjutkan usaha sendiri, sebisa mungkin saya tidak terbebani hutang. Kalaupun saya hutang untuk modal usaha, diusahakan yang bisa ditutup tabungan bulanan saya (tapi Alhamdulillah, hingga saat ini belum perlu pinjam untuk modal usaha).

Meskipun bukan pemain saham atau instrumen keuangan lain, yang mencari keuntungan dari naiknya saham, saya suka membaca berita ekonomi dan keuangan. Bagi saya, membaca berita ekonomi dan saham, artinya saya tahu akan terjadi pelambatan ekonomi atau tidak. Dan saya percaya, saat ekonomi turun yang ditandai menurunnya saham (saham selalu turun terlebih dahulu, sebelum ekonomi real), suatu saat ekonomi akan naik kembali (kata orang saham, rebound), karena manusia berkegiatan ekonomi untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.

Di saat ekonomi turun, harga saham murah, dan di saat krisis ekonomi, saham dan logam mulia sama-sama murah. Buat saya. saat yang tepat untuk beli saham dan logam mulia. Bila tidak mengerti aturan main saham, bisa beli reksadana. Ini yang saya lakukan.

Mungkin masih ada yang ingat, di saat krisis ekonomi terjadi di Amerika Serikat 2007 yang merambat ke Indonesia tahun 2008, saya menghabiskan tabungan saya untuk membeli reksadana saham dan logam mulia. Seingat saya dalam waktu 3 atau 4 tahun, tabungan reksadana dan logam mulia saya bisa saya dapatkan kembali dengan margin (keuntungan) 200-300% (saya lupa tepatnya). Dari tabungan itu, saya beli rumah dengan cash.

 

Saya lanjut di artikel lain ya….ternyata sudah nulis panjang, nanti pusing yang baca.

Ikuti terus blog saya, karena saya akan usahakan selalu share ilmu saya yang sedikit ini di bidang usaha online, dunia keuangan amatiran dan sebagai ibu tunggal